Bersekolah di Rumah

Bersekolah di Rumah*
(Written by Wulan Pratidina)

fishschoolingMeski bersekolah rumah, anak Anda bisa mengikuti ujian kesetaraan untuk mendapatkan ijazah dan bisa pindah ke sekolah formal jika berminat. Materi apa saja yang perlu diajarkan orang tua di rumah?

Homeschooling atau sekolahrumah kini semakin diminati orang tua sebagai metode alternatif pembelajaran anak. Homeschooling adalah sekolah alternatif yang menempatkan anak sebagai subyek pendidikan dengan pendekatan “at home“. Berada di rumah biasanya membuat anak merasa nyaman karena selalu berada di tengah keluarga.

Sebenarnya proses belajar mengajar dengan metode homeschooling tidak selalu harus di rumah. Anak bisa belajar apapun sesuai minatnya, kapanpun dan dimanapun.

“Dalam sistem homeschooling, jam pelajaran bersifat fleksibel: mulai dari bangun tidur sampai berangkat tidur kembali,” kata pakar pendidikan anak DR. Seto Mulyadi, PSi, MPsi, yang biasa disapa Kak Seto, dalam makalah yang berjudul “Homeschooling, Pendidikan Alternatif Masa Depan“.

Dengan mengikuti metode sekolahrumah, anak berkesempatan besar untuk belajar sesuai minat. Lalu bagaimana dengan pelajaran yang tidak disukai anak? Apakah ia bisa saja sama sekali tidak belajar matematika atau bahasa Indonesia? Tentu tidak demikian. Di sinilah orang tua sangat berperan. “Orang tua harus membangun kultur belajar, menumbuhkan dan memelihara keingintahuan anak. Ini hal yang paling penting,” kata Sumardiono, praktisi homeschooling untuk dua anaknya, Yudhis dan Tata. Orang tua bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk kegiatan belajar anak dan memperkenalkan anak kepada sumber-sumber pembelajaran (seperti ensiklopedia, kamus dan internet). Orang tua juga mesti kreatif mencari metode belajar yang paling tepat untuk anaknya.

Materi Ajar

Para homeschooler juga berhak mendapat materi pelajaran yang sama dengan anak di sekolah formal (SD). Untuk bisa mengikuti ujian kesetaraan Paket A atau setara SD, misalnya, homeschoolers harus menguasai mata pelajaran bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganeraan, Matematika, IPA dan IPS, agar mendapat ijazah SD dan bisa melanjutkan ke SMP. Standar kurikulum yang ditetapkan Departemen Pendidikan Nasional dapat diunduh dari internet, di situs Pusat Kurikulum, http://www.puskur.net.

“Selain mata pelajaran Iptek, homeschooler sebaiknya juga menguasai ketrampilan fungsional dan kepribadian profesional,” kata Dr. Ella Yulaelawati, Durektur Pendidikan Kesetaraan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Biasa Sekolah Depdiknas. Keterampilan fungsional dan kepribadian profesional berorientasi pada minat anak dan kepekaan orang tua untuk membaca bakat anak. Tujuan utamanya adalah mengasah keahlian praktik dan hanya sedikit memberi penjelasan teoritis.

Keterampilan fungsional bisa meliputi seni, budaya, olahraga, atau keahlian lain. “Misalnya, anak belajar desain grafis, ilmu komputer, melukis, sinematografi, atau berusaha menjadi pemain sepakbola nasional,” ujar Ella. Sementara kepribadian profesional menyangkut teknik berkomunikasi dan ilmu kepemimpinan. “Dua jenis keterampilan itu tidak diujikan secara nasional tapi bisa menjadi nilai tambah ketika anak terjun menjadi praktisi,” kata Ella.

Mulai dari minat anak

Pertanyaan yang kerap dilontarkan orang tua adalah, “Dari mana anak harus mulai belajar?” Karena sekolahrumah menempatkan anak sebagai subyek maka mulailah dari minat anak. Jika anak Anda sangat tertarik pada ilmu alam, kenalkan ia kepada literatur dan referensi seputar sains. Antara satu bidang ilmu dengan bidang ilmu lain pasti punya ketertarikan. Nah, disitulah Anda harus kreatif menemukan cara untuk masuk ke bidang ilmu terkait.

John Holdren, pakar pendidikan dari John Hopkins University, Amerika Serikat, menyarankan memulai homeschooling dengan pelajaran sejarah yang merupakan gerbang untuk membuka cara pikir dan imajinasi. “Saya setuju dengan John Holdren. Pengetahuan tentang masa lalu menyiapkan anak untuk memahami masa kini dan membentuk masa depan,” kata Yanti Sriyulianti, Koordinator Rumah Kerlip (Keluarga Peduli Pendidikan). Belajar sejarah bisa dimulai dari cerita rakyat yang sarat dengan pelajaran seputar peradaban dan karakter manusia pada zaman tertentu. Dari cerita tersebut, anak punya rasa ingin tahu tentang sejarah bangsa, penemuan-penemuan terbaik di zaman itu, tokoh-tokoh yang berpengaruh, karakteristik sosial, dan masih banyak lagi. “Yang perlu diingat, jangan jadikan homeschooling sebagai pembenaran anak yang malas sekolah dan orang tua juga tidak berusaha maksimal. Itu adalah pemahaman yang salah,” kata DR. Reni Abar-Hawadi, MPsi, psikolog dari Universitas Indonesia. Berkomunikasi dan bernegosiasi untuk mengakomodasi minat anak sangat penting dalam konsep sekolahrumah. Memulai hari dengan pertanyaan, “Mau belajar apa hari ini?” sangat diperlukan. Anak selalu diberi pilihan dan belajar mengambil keputusan sehingga ia terbiasa memikul tanggung jawab atas keputusan yang ia buat sendiri.

Sumber tak terbatas

Sekolahruman memberi keleluasaan bagi anak untuk menggali berbagai sumber ilmu. Koran, majalah, situs internet, dan berbagai referensi lain bisa menjadi panduan belajar para homeschooler. Permainan juga bisa menjadi sumber belajar yang baik dan menyenangkan bagi anak dan permainannya pun tidak mesti serba canggih dan mahal. Sumardiono malah membuat permainannya sendiri. Ia membuat sendiri flashcard (kartu untuk mengenal huruf), mengajarkan memory game dari kartu remi, hingga membangun sebuah kota berbahan dasar kertas yang terinspirasi dari permainan Sims City.

Bukan hanya materi pelajaran yang tak terbatas, gurunya pun tidak terbatas hanya orang tua atau tutor. Para homeschooler juga bisa mendapat pelajaran dari siapapun. Anak bisa belajar menggambar dari pamannya yang berprofesi sebagai ilustrator, belajar menulis dari tetangga yang bekerja sebagai wartawan, belajar bisnis dari nenek yang mengelola usaha katering, hingga belajar bermain tenis dari sahabat ayah yang kebetulan atlet profesional. “Ketika kami sedang berkumpul, seringkali ada mahasiswa yang mau membantu anak belajar. Para orang tua juga saling membant. Ada yang mahir berbahasa Inggris, pandai matematika, suka mendongeng, atau keahlian lain, mereka bisa mengajar anak-anak dalam komunitas,” kata Yayah Komariah, Ketua Komunitas Homeschooling Berkemas. Yayah mengatakan, homeschooler sangat cepat beradaptasi dengan “guru” yang baru mereka kenal dan cepat menyerap informasi yang baru mereka dapatkan karena mereka berada dalam situasi belajar yang menyenangkan, tanpa paksaan. Anak akan lebih mudah belajar jika materi pelajarannya dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. “Ketika mengajarkan matematika kepada Yudhis yang berusia 5 tahun, kami sering menggunakan alat peraga yang familiar deperti uang atau jam. Sementara Tata yang berusia 2tahun , lebih senang belajar warna dengan memakai buah, sayur-sayuran, atau makanan favoritnya,” kata Sumardiono. Lokasi belajar juga sangat fleksibel: bisa di supermarket, jalan raya, bus kota, atau tempat wisata seperti planetarium dan kebun binatang.

Sebelum memulai Homeschooling

  1. Apa alasan Anda memilih homeschooling? Mengetahui motivasi Anda akan membantu Anda menentukan model pembelajaran yang tepat. Kenali juga kendala atau kebutuhan Anda dan anak. Setelah itu, ujilah seberapa jauh komitmen Anda terhadap homeschooling. Bagaimana Anda menempatkan homeschooling dalam prioritas pribadi dan keluarga Anda? Berapa banyak waktu Anda yang dapat Anda sediakan untuk mengajar anak dan mungkin anak lain dalam komunitas homeschooling?
  2. Komitmen penuh orang tua dalam proses pembelajaran mutlak diperlukan. “Termasuk kesediaan orang tua untuk belajar karena ketertarikan anak akan distimulasi oleh kegiatan orang-orang terdekat, terutama orang tua,” kata Sumardiono. Komitmen untuk menciptakan kultur belajar yang membangkitkan motivasi anak adalah tantangan terbesar bagi para orang tua.
  3. Cari informasi sebanyak-banyaknya. Di internet tersedia banyak sekali informasi mengenai homeschooling. Selain itu, ada baiknya Anda banyak membaca buku dan artikel seputar pendidikan anak. Hadiri seminar dan berkenalan dengan orang tua yang sudah mempraktekkan homeschooling.
  4. Bergabunglah dengan komunitas homeschooling. Jika ada komunitas homeschooling di sekitar Anda, bergabunglah agar Anda dapat bertukar pengalaman dan saling berbagi materi pelajaran. Jika belum ada, bentuk komunitas kecil-kecilan dengan tetangga atau kerabat dekat yang juga menerapkan metode sekolahrumah.
  5. Segera memulainya. Jika Anda sudah mantap menempuh homeschooling, mulailah mempraktekkannya. Yang terpenting adalah komitmen Anda untuk menjalankannya. Homeschooling memberikan flesibilitas dalam prose belajar, bukan hanya bagi anak, tapi juga bagi Anda sebagai orang tuanya.

*dicopas dari KlubSinau.com

Terkait dengan kurikulum, terdapat banyak pilihan kurikulum yang bisa diadopsi oleh keluarga homeschooling mulai dari yang gratisan sampai yang membeli kurikulum luar negeri. Selain kurikulum dalam negeri yang bisa di download gratis di puskur[dot]net, ada juga buku-buku yang bisa diperoleh gratis juga di http://bse.invir.com/index.html. Jika ingin mengadopsi kurikulum dari luar negeri bisa juga memakai kurikulum cambridge yang kurikulumnya bebas didapatkan di internet http://www.cie.org.uk/ atau dari world book http://www.worldbook.com/.  Kurikulum tersebut hanyalah  sebagai garis besar pembelajarannya saja, sedangkan untuk buku-buku atau bahan ajar dibebaskan penggunanya untuk memakai buku apa saja, entah itu buku bekas atau tingkat kreatifitas homescholer dalam membuatnya sendiri sesuai dengan kebutuhan anak-anak.

Iklan

About this entry