tulisan tangan

anakku…
suatu saat nanti, engkau akan mengenal kami,
dari apa yang engkau lihat setiap harinya…
akan banyak ketidaksempurnaan yang akan engkau temui,
serta akan banyak kekhilafan yang terjadi,
dan akan banyak kebodohan yang kami lakukan…

sebelum engkau menghakimi kami dari apa yang engkau lihat..
biarkanlah kami mengenalkan diri kami terlebih dahulu..
dengan bahasa kami, melalui tulisan ini…

anakku..
bapakmu bukanlah seorang lelaki yang kuat,
karena ia tidak bisa menahan air kebahagiaan keluar dari matanya ketika dirimu mulai hadir diantara kami;
bapakmu bukanlah seorang lelaki yang pemberani
karena ia tidak pernah tahan, melihat air mengalir dari kedua matamu yang bening, terhadap setiap kesakitan yang engkau alami;
bapakmu bukanlah seorang lelaki yang pandai,
karena kadang ia tidak mengerti apa yang engkau inginkan, dari setiap ucapan dan tangisanmu;
bapakmu bukanlah seorang lelaki yang lembut,
karena ia akan bersikap kasar terhadap siapa saja yang menyakiti hatimu;
bapakmu bukanlah seorang lelaki yang kaya,
tapi ia akan memberikan seluruh apa yang dimilikinya hanya untuk kebahagiaanmu;

sedangkan ibumu…
adalah seorang wanita yang luar biasa
dengan segala kelebihan yang dimilikinya,
ia bersedia menerima bapakmu dengan segala kefakirannya;
dan dengan segala yang ada padanya, yang menjadi impian setiap lelaki waras untuk dapat memilliki,
ia memberikannya hanya kepada bapakmu, yang tidak ada padanya, sesuatu pun yang dapat dibanggakan;

ibumu adalah seorang wanita yang kuat
yang selama sembilan bulan engkau menjadi bagian darinya, tumbuh dari bagian dagingnya, yang selalu membebaninya, memberatkannya, membuatnya sulit bergerak, bernafas bahkan untuk hanya sekedar memejamkan mata
tapi tidak pernah sedikitpun keluar keluh kesah dari mulutnya;
ibumu adalah seorang yang pemberani
karena ia pernah berhadapan dengan sang maut, bertarung dengannya hidup dan mati, berjuang hanya untuk kehidupanmu yang baru;
ibumu adalah seorang pekerja keras
yang 24 jam sehari, 7 hari seminggu, mengabdikan dirinya hanya untukmu
yang selalu terjaga setiap malam, hanya untuk memastikan kenyamananmu
yang memberikan sari pati dari hidupnya, hanya untuk kepuasanmu
dan hanya merasa cukup, dengan melihat senyum dari bibir kecilmu, sebagai pengganti upahnya;
ibumu adalah seorang wanita yang lembut
yang dengan kedua tangannya ia membelaimu, memandikanmu, membersihkanmu dan menjagamu ketika engkau masih rapuh;
ibumu adalah seorang yang pandai
yang dengan hatinya, ia selalu mengerti terhadap apa yang engkau inginkan dari setiap tangismu;

janganlah kau membuat air mengalir dari matanya…
dengan pembangkangan yang kau lakukan terhadap setiap nasehatnya
dengan pekikan yang kau teriakkan ke dalam telinganya;
karena bukanlah keburukkan yang ia inginkan untukmu
terhadap setiap nasehat yang ia berikan kepadamu;

ciumlah kakinya,
karena surgamu berada diantaranya;
ciumlah tangannya,
karena dengan itulah ia merawatmu, ketika engkau masih rapuh hingga engkau menjadi tangguh;

cukuplah air mengalir dari kedua matanya, ketika engkau lahir kedunia,
sebagai kebahagiaan baginya, melihatmu keluar dari dirinya tanpa kurang suatu apa

— o —


About this entry