love in the sky in the december rainy day

Alhamdulillah, dua buah kabar gembira mampir melalui email dan koment di fs dari dua orang sahabat yang akan menggenapkan separuh dari diennya pada bulan desember ini

Duhai, adakah yang melebihi indahnya dari sepasang anak manusia yang saling mencintai yang saling memadukan langkahnya dalam menggapai cita dan cinta melalui jalan yang telah diridhoi-NYA…

Teruntuk saudaraku pemilik kota hujan dan pecinta hujan dan juga teruntuk sang penceloteh yang sedang menikmati indahnya masa bahagia juga teruntuk saudaraku yang masih berjuang dalam kesendiriannya, yang sedikit ini semoga bermanfaat.

Saudaraku, setiap perbuatan merefleksikan sebuah niat. Demikian pula pernikahan dua anak manusia juga berangkat dari sebuah niat, yaitu niat yang melahirkan gambaran tujuan kedua insan yang sedang mulai mengarungi samudera rumah tangga. Mewujudkan tujuan dan cita-cita pernikahan, tidaklah semudah membalik tangan, serta tidak akan begitu saja niat pernikahan membuahkan kebahagiaan di kemudian hari.

Saudaraku, pernikahan merupakan sumber keberkahan bagi pasangan yang saling mencintai, serta sarana yang telah di ridhoi untuk memadukan cinta dan kasih sayang yang telah dikaruniakan oleh Allah Azza Wa Jalla

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS Ar Rum : 21)

Namun pun demikian, memadu cinta dan berkasih sayang bukanlah satu-satunya tujuan dalam pernikahan sehingga tersibukkannya dalam memadu kasih dan sayang akan melalaikan dari tujuan hakiki dari pernikahan yang sangat luhur lagi mulia.

Allah yang telah mensyariatkan pernikahan, sehingga sudah semestinya setiap pasangan meniatkan pernikahannya hanya untuk Allah semata. Dan Allah menetapkan tegaknya tegaknya rumah tangga islami sebagai muara akhir pernikahan, yaitu tegaknya sebuah keluarga yang terdiri dari pasangan yang sholih dan sholihah, yang dengan kehendak Allah akan menurunkan keturunan yang sholih dan sholihah juga, yang dengan bekal kesholihan tersebut, akan bersama-sama merealisasikan ketulusikhlasan pengabdian kepada Robbnya semata.

Demikianlah hakikat dan tujuan pernikahan yang sesungguhnya, sehingga pernikahan merupakan hal yang sangat besar urusannya, bukan sesuatu hal yang sepele dan sederhana. Ia merupakan sesuatu yang agung, seagung tujuan yang ditetapkan oleh Allah yang mensyariatkannya.

Saudaraku, keagungan tersebut hanya bisa diraih dengan bekal iman, yaitu iman yang membuahkan amal-amal sholih. Keagungan tersebut akan diperoleh oleh setiap pasangan yang mampu memadukan langkahnya bersama-sama membina tumbuh dan berkembangnya keharmonisan sejati menuju keridhoan Allah, memadu langkah bersama mengayunkan kaki menuju kecintaan Illahi yang merupakan cinta yang sejati, cinta seorang hamba kepada sesamanya yang membuahkan cinta kepada dan dari Dzat Yang Maha Pencipta.

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْكَمُاَ فِيْ خَيْرٍ.

“Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan.”

(HR. Penyusun-penyusun kitab Sunan, kecuali An-Nasai dan lihat Shahih At- Tirmidzi 1/316)

*disadur dari majalah Al Mawadah edisi 2 tahun I


About this entry