Ketika Cinta Hakiki Bersemi

Islam merupakan dien yang agung, yang menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.

Rasa cinta hakiki bagaikan pohon di dalam hati, yang akarnya berupa kepatuhan kepada sang Kholiq, batangnya adalah ma’rifat kepada-Nya, cabangnya adalah rasa takut kepada-Nya, daun-daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya, buahnya adalah ketaatan kepada-Nya dan pupuknya adalah dengan selalu mengingat kepada-Nya

Barangsiapa yang mampu mencintai Alloh berdasarkan ilmu, maka ia akan mendapatkan hati yang khusyu, jiwa yang qona’ah dan doa yang di dengar. Dan siapapun yang tidak bisa mencintai Alloh, maka ia terjerat dengan empat perkara yang Rosululloh Shalallaahu alaihi wasalam telah memohon perlindungan darinya dalam do’a beliau :

Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu, dari jiwa yang tidak pernah merasa puas dan dari doa yang tidak dikabulkan (HR. Muslim 73/6907)

Bahwasanya, Alloh mencintai hamba-Nya yang beriman, dan mereka pun mencintai-Nya dengan kecintaan yang amat sangat.

“Barangsiapa menghina wali-Ku, berarti ia telah mengumumkan peperangan terhadap-Ku. Hamba-Ku akan senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengaran yang dipakainya untuk mendengar, penglihatan yang digunakan untuk melihat, tangan yang digunakan untuk memukul, kaki yang digunakan untuk melangkah. Dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dengan-Ku ia memukul dan dengan-Ku pula ia melangkah. Apabila ia meminta, niscaya akan aku beri. Apabila memohon perlindungan niscaya aku lindungi. Aku sama sekali tidak ragu melakukannya, sebagaimana keraguan-Ku untuk mencabut nyawa hamba-Ku yang beriman yang tidak suka menyakitinya, sedangkan kematian sudah merupakan suatu keharusan.” (HR Bukhori)

Barangsiapa yang ingin mencintai secara benar dan sejati sehingga bisa meraih taman surga dan mendapat kebahagiaan abadi, maka hendaklah mencoba mewarnai kehidupan dengan cinta yang murni dan sejati, yaitu mencintai pasangan hidup karena Alloh dan Rosul-Nya Shalallaahu alaihi wasalam.

dikutip dari kajian oleh Ustad Abu Ahmad Zainal Abidin
pada majalah Al Mawadah Edisi 2 tahun I


About this entry