pasangan hidup

sebagai bukti pelaksanaan tindak lanjut saran |halah| dari calon bapak yang saat ini sedang nyidam mengenai postingan yang sebaiknya tidak melulu mengenai anak, berikut ini saya re-post kembali nasehat  yang mudah-mudahan bermanfaat bagi mereka yang akan berumah tangga, sedang dan telah berumah tangga ataupun  masih dalam angan-angan untuk berumah tangga [pada nunggu apa sih ya…❓ ] mengenai bagaimana sebaiknya cara kita bersikap terhadap pasangan/calon pasangan hidup kita

semoga bermanfaat

Pasangan hidup merupakan cermin dari jati dirinya.

Bila anda menjadi marah atau benci karena mengetahui adanya kekurangan pada pasangan anda, maka ketahuilah, anda pun memiliki kekurangan serupa atau lainnya, yang mungkin lebih besar dari kekurangannya.

Bila anda merasa memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh pasangan anda, maka ketahuilah, ia pun memiliki kelebihan yang tidak ada pada anda.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berpesan kepada kita dengan sabdanya :

“Dari Abi Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: ‘Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, (karena) bila ia tidak menyukai satu perangai padanya, pasti ia menyukai perangainya yang lain’.” (HR. Muslim no 1469)

Seyogyanya seorang muslim bersikap dan berfikir, tidak sepantasnya bersikap egois, hanya suka menuntut, akan tetapi tidak menyadari kekurangan yang ada pada dirinya sendiri.

Bila kita menuntut agar pada diri calon pasangan kita memiliki berbagai kriteria yang sempurna, maka ketahuilah, calon pasangan kita pun memiliki berbagai impian tentang pasangan hidup yang ia dambakan. Karenanya, sebelum kita menuntut, terlebih dahulu wujudkanlah tuntutan kita pada diri kita sendiri.

Dengan demikian kita akan dapat berbuat adil dan tidak semena-mena bersikap dan dalam menentukan kriteria ideal calon pasangan hidup.

(Rubrik Baituna, Majalah Assunah edisi 04/tahun XII, Rajab 1429/Juli 2008 oleh Ust. Muhammad Arifin Badri)


About this entry