mari keluar dan bermain

aku mencoba mendekati anak itu dengan kata-kata;
kata-kata itu seringkali lewat tanpa didengarnya.

aku mencoba mendekati anak itu dengan buku-buku;
ia hanya melihatku dengan pandangan bingung.

putus asa, aku berpaling;
“bagaimana aku harus mendekati anak ini?” aku berteriak.

ke telingaku ia berbisik.
“marilah,” katanya. “bermainlah denganku.”

– awanama –

sebuah pertanyaan buruk yang sering didengar ketika kita masih kecil adalah : “kamu ingin menjadi apa setelah dewasa nanti?“. pertanyaan tersebut merupakan sebuah pelanggaran, sebuah gangguan dan sebuah campur tangan terhadap keberadaan hidup saat ini, sebab anak-anak” adalah sebuah keadaan yang mereka perlukan. begitu banyak orangtua yang sangat ambisius terhadap anak-anaknya, berusaha menjadikan mereka seperti apa yang mereka inginkan, bukan memberikan apa yang setiap anak butuhkan, yaitu ~ bermain ~

Papalia (1995), dalam bukunya Human Development, mengatakan bahwa anak berkembang dengan cara bermain. Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Dengan bermain mereka menggunakan otot tubuhnya, menstimulasi indra-indra tubuhnya, mengeksplorasi dunia sekitarnya, menemukan seperti apa lingkungan yang ia tinggali dan menemukan seperti apa diri mereka sendiri. Dengan bermain, anak-anak menemukan dan mempelajari hal-hal atau keahlian baru dan belajar (learn) kapan harus menggunakan keahlian tersebut, serta memuaskan apa yang menjadi kebutuhannya (need). Dengan bermain, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain akan berkembang.

Hughes (1999) dalam bukunya Children, Play, and Development, mengatakan harus ada 5 (lima) unsur dalam suatu kegiatan yang disebut bermain. Kelima unsur tersebut adalah:

  1. Tujuan bermain adalah permainan itu sendiri dan si pelaku mendapat kepuasan karena melakukannya (tanpa target), bukan untuk misalnya mendapatkan uang;
  2. Dipilih secara bebas. Permainan dipilih sendiri, dilakukan atas kehendak sendiri dan tidak ada yang menyuruh ataupun memaksa;
  3. Menyenangkan dan dinikmati;
  4. Terdapat unsur khayalan dalam kegiatannya;
  5. Dilakukan secara aktif dan sadar.

Walaupun hanya sekedar berlari-lari keliling di dalam ruangan, jika kegiatan tersebut dirasakan menyenangkan bagi anak, maka kegiatan itu sudah dapat juga disebut bermain.

Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua dalam membimbing anaknya dalam bermain sehingga benar-benar berguna bagi anak tersebut, diantaranya :

  1. Sesekali seringkali ikutlah bermain bersama mereka, pahami dirinya, kegembiraan, ketakutan dan kebutuhannya;
  2. Dukung kreativitas permainanan anak, selama apa yang diperbuat anak bukanlah perbuatan yang kurang ajar, tidak merugikan, tidak menyakiti dan tidak membahayakan baginya dan orang lain;
  3. Bimbing dan awasi anak dalam bermain, tapi tidak over-protective. Anak mungkin tidak tahu jika yang dilakukannya dalam permainan adalah perbuatan yang salah, sehingga mereka perlu dibimbing dan jangan bersikap over-protective yang akan dapat menghalangi kebebasannya. Misalnya, ketika anak berlari-lari dan pernah terjatuh adalah sesuatu wajar yang tidak perlu membuat kita melarang bereka untuk bermain.

“bagi anak-anak kecil, mereka diberikan rukhshah/keringanan yang tidak diberikan kepada orang dewasa, disebabkan tabiat anak-anak yang suka bermain dan hiburan, mereka tidaklah dibebani dengan satu macam ibadah pun sehingga kita tidak dapat berkomentar bahwa waktu si anak sia-sia terbuang percuma dengan main-main”

jadi….

MARI KELUAR dan BERMAIN !!

~ * ~

The secret ingredient is love!!
Uncle Iroh – from “Avatar: The Last Airbender”


About this entry