Bersedihlah

Sebuah kisah dari sirah nabawi, sebagai hujjah bagi pengarang buku best seller, buku yang melarang kita bersedih, yang didalamnya penuh dengan nukilan dari kaum orientalis

Bersedihlah, Karena kesedihan itu sendiri, terkadang memiliki alasan-alasan yang dibenarkan oleh syari’at, sehingga yang bersedih perlu bersabar dan mengharapkan pahala atas kesabarannya tersebut.

Semoga bermanfaat.

Dari buku “Biografi Keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam” oleh Muhammad Mahmud ‘Abdulloh,

“Abu ‘Umar bin “Abdil Barr berkata, “Telah diriwayatkan secara shohih bahwa Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menangisi kepergian putranya, Ibrohim, namun tanpa mengeraskan suaranya. Beliau bersabda, Mata menangis dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan selain yang diridhoi Alloh. Sungguh, kami benar-benar sedih dengan kepergianmu, wahai Ibrohim,”

Ibrohim jatuh sakit ketika usianya belum genap dua tahun. Hal itu membuat ibunya (Mariyah) sedih dan bangun setiap malam di samping tempat tidurnya. Namun nampaknya, tanda-tanda kehidupan pada dirinya meredup sedikit demi sedikit. Maka, Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam datang dan menggendong anaknya dan menaruhnya di pangkuannya, dengan hati yang sedih dan tidak tahu harus berbuat apa. Dalam suasana sedih dan pasrah, beliau bersabda, “Wahai Ibrohim, sesungguhnya kami tidak bisa memberimu manfaat dari Alloh sedikitpun.”

Kedua mata beliau berlinang air mata ketika melihat putra satu-satunya itu mengalami sekarat. Beliau merundukkan badannya ke tubuhnya dan mencium pipinya sambil bersabda , Wahai Ibrohim, kalau bukan karena hal itu adalah perkara yang pasti dan janji yang benar, dan bahwa orang terakhir kita bakal menyusul orang yang pertama, tentu kami akan bersedih melebihi kesedihan kami saat ini. Dan, sungguh kami sangat sedih dengan kepergianmu, wahai Ibrohim. Mata menangis dan hati ini sedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu yang membuat Alloh murka.” ¹

Kemudian beliau memandang ke arah Mariyah, beliau bersabda kepadanya dengan nada menghibur, “Sesungguhnya Ibrohim adalah anakku. Dan sesungguhnya ia meninggal dunia ketika masih dalam masa menyusu. Sungguh, nanti akan ada dua perempuan tukang menyusui yang akan menyempurnakan masa menyusunya di surga.

¹Al-Isti’ab : I/156


About this entry